Rabu, 25 Maret 2015
COSMOPOLITANISM?
Ketika saya S2 ini contohnya, mayoritas teman-teman saya sudah "ahli" dalam beberapa spesifikasi, misalnya ada yang ahli sekali jika membahas masalah-masalah seputar Timur Tengah, ada yang ahli sekali membahas organisasi internasional, atau kuat sekali pada masalah seputar Filipina, dan sebagainya.
Saya sendiri senang dan condong lebih memperhatikan hal-hal seperti cultural, peace studies, atau masalah gender. Selain daripada itu saya "agak agak" juga. Saya menghindari konflik-konflik apalagi kalau panjang. Selain itu, saya suka ilmu HI karena didalamnya terdapat banyak sekali cara pandang yang akan kita pelajari dalam "studi perspektif". Kalau ada kelas khusus perspektif, sudah jelas saya ambil hanya untuk ingin tahu lebih jauh... apa sih pikiran si ini tentang ini atau tentang itu.
Singkatnya, sekarang saya mau membahas mengenai Kosmopolitanisme.
Dulu sewaktu S1, dosen saya sempat menyinggung sedikit tentang Kosmopolitanisme, sayangnya hanya sedikit sekali padahal "nama" perspektif ini keren banget mengingatkan saya sama majalah Kosmopolitan yang jadi option saya waktu beli majalah. Saya pikir pasti ada artinya dibalik pemilihan nama majalah itu, kenapa Kosmopolitan? apa itu Kosmo? kenapa namanya keliatan modern sekali.
S2 saya disinggung lagi dengan nama Kosmopolitan ini. Sayangnya pada semester 1 saya pusing karena ternyata memahami perspektif ini "katanya" adalah yang paling sulit. Karena pencetusnya sendiri diibaratkan seperti "manusia tong", ia berkhayal sangat jauh bahwa sanya suatu saat nanti semua manusia dalam waktu yang sangat singkat bisa berada di tempat berbeda. Anggap saja pada hari ini, kita bisa bangun di Jakarta - Sarapan di Malaysia - Rapat di Singapura - Istirahat di Thailand - Dinner di Filipina - dan menutup hari dengan tidur di Amerika. Hebatnya hayalan manusia tong itu menjadi kenyataan saat ini. Ya kan? sekarang semua orang bisa melakukan hal seperti ini. Tapi si manusia tong sudah memikirkannya jauuuuh sebelum ada orang yang bisa melakukan ini.
Tetapi untuk memahami Kosmopolitanisme sebenarnya tidak sesederhana ini. Terlalu banyak hal aneh dalam Kosmopolitanisme. Sepertinya semua yang aneh ada didalam perspektif ini. Ada yang mengatakan bahwa teori Kosmopolitanisme ini seperti "Seseorang yang Bersayap namun Juga Berakar" sehingga ia dapat terbang kemanapun ia inginkan, namun tidak pernah bisa lepas dari nasionalitasnya. Meskipun "seseorang" itu seperti homeless atau mengatakan my home is nowhere dan selalu secara melankolis merasa bahwa ia memiliki keterikatan kepada tempat-tempat yang ia datangi pada waktu yang berbeda-beda.
Kembali kepada hayalan manusia tong. Apabila digambarkan maka pada masa lalu, Kosmopolitan hanya berupa Ide, hanya ada didalam pikiran si manusia tong, ia hidup di zaman Yunani. dan masih berupa Ide pada masa kapitalisme. Baru menjadi practice di saat era globalisasi.
Dapat berada ditempat-tempat berbeda dalam sekejap bukanlah inti dari teori Kosmopolitanisme. Memiliki hak yang sama, perasaan yang sama, keinginan yang sama diseluruh belahan dunia juga adalah KOSMOPOLITANISME. Inilah yang diperkenalkan Khant sebagai : "rights" - is universal hospitality".
Kosmopolitanisme intinya adalah sebuah proses imajinasi ideologis -> Bench
Tokoh-tokoh Kosmopolitanisme lainnya, siapa lagi kalau bukan Christoper Colombus yang menjadi orang pertama mengelilingi dunia. Christoper Colombus menyatakan bahwa "Ini bukan soal Hak saja, tetapi seberapa jauh seseorang dapat mengeksplor dirinya". Dalam artian bahwa seorang Kosmopolit adalah seorang yang memiliki toleransi dan keterbukaan pemikiran
Huttington juga melalui Universal Civilization nya menyatakan bahwa Kosmopolitanisme itu adalah "Budaya + Kemanusiaan + Meningkatnya pengakuan atas beberapa nilai, kepercayaan, orientasi, praktek, institusi-institusi, dari manusia dan dunia"
Dengan demikian, Kosmopolitanisme memang sebuah perspektif yang modern, meskipun sudah ada sejak zaman manusia tong hidup yakni zaman Yunani. Karena praktek Kosmopolitanisme itu sendiri baru marak dibuktikan pada era globalisasi. <3
Sabtu, 14 Maret 2015
PEREMPUAN DAN PERDAMAIAN: Book Review of Inger Skjelsbaek & Dan Smith “Gender, Peace & Conflict”
Hello, Internet. Well, I realize I haven't post anything for quite long time. So, this is it tho~, might be useful for some of you. Enjoy to read then.. I'm very happy to share <3
“PEREMPUAN DAN PERDAMAIAN”
Senin, 05 Januari 2015
“INTERNATIONAL FINANCIAL RELATIONS; TRADE, FOREIGN POLICY, AND DIPLOMACY”
Membuat Review Bacaan
- Review bacaan berbeda dengan membuat rangkuman bacaan. Membuat rangkuman hanya merupakan salah satu tahap dalam membuat review bacaan
- Mengingat sebagian besar bahan bacaan yang akan di-review adalah berbahasa Inggris, hindari untuk sekedar menerjemahkan (penting untung diingat, tulisan hasil terjemahan yang serampangan biasanya akan sangat kentara, apalagi jika Anda hanya sekedar menggunakan fasilitas penerjamahan gratis secara online)
- Pilih dan baca bacaan dari bahan bacaan yang disediakan dan pahami bahan bacaan tersebut secara utuh. Jika belum yakin bahwa Anda memahami bacaan tersebut secara utuh, ulangi lagi membaca bacaan tersebut
- Dari pemahaman Anda atas bacaan tersebut, buat rangkumannya secara ringkas: apa argumen pokok dan temuan menarik dari bahan bacaan tersebut . Dalam membuat rangkuman, tulis ulang argumen pokok dari bahan bacaan tersebut dengan kalimat Anda sendiri, jangan hanya sekedar copy dan paste (rangkuman cukup ditulis 1-2 paragraf tergantung batasan jumlah kata/halaman).
- Sampaikan opini Anda apakah setuju/tidak setuju dengan argumen pokok dari bahan bacaan tersebut. Perkuat opini Anda dengan contoh. Jika diperlukan, tambahkan sumber bacaan lain untuk memperkuat opini Anda (bagi mahasiswa level S1 tidak menjadi keharusan untuk menambahkan bahan bacaan lain tetapi akan menjadi nilai tambah jika Anda melakukannya).
- Bagi mahasiswa level S2, kritisi bahan bacaan yang Anda review dan dukung kritik Anda dengan bahan bacaan lain. Bandingkan dengan bahan bacaan lain yang terkait dengan tema yang diangkat dalam bacaan yang Anda review. Kaitkan juga argumen pokok dari bahan bacaan tersebut dengan tema-tema yang lebih luas yang dibahas di kelas.
Oleh sebab itu, dalam beberapa tulisan saya di blog ini kedepannya mengenai review buku bacaan, akan saya compare dengan tulisan dari tidak hanya satu buku tetapi juga beberapa bacaan lainnya. <3.
Selamat Siang!
lihat lebih lengkap di: (http://poppysw.staff.ugm.ac.id/posts/fyi/membuat-review-bacaan/)
Senin, 03 November 2014
P. De Grauwe dan F. Camerman: How Big Are the Big Multinational Companies? VS ROBERT GILPIN
LIBERALISME (one of the famous perspective in international relations studies!)
Beberapa pekan saya cukup sibuk dengan masalah personal, pencocokan dengan tempat dan suasana baru, juga rutinitas baru di S2 UGM yang woah pokoknya ga bisa di deskripsikan dengan kata-kata.
Oke... nah awal semester ini, kami dibukakan kembali memory mengenai Perspektif-Perspektif yang ada dalam Studi Hubungan Internasional, namun kali ini mungkin sedikit "lebih" diperdalam.
Kebetulan, saya mendapat bagian membahas "LIBERALISME" yang so so... often diperdengarkan sejak zaman S1 dulu. Kali ini saya me-review dari buku Scott Burchill, Andrew Linklater, Richard Devetak, Jack Donnelly, Matthew Paterson, Christian Reus-Smit, dan Jacqui True, yaitu “Theories of International Relations”.
So...bagi yang sedang merambah buku ini, mudah-mudahan bisa bit helping.
Dan... buat sedikit tambahan, saya juga mencantumkan contoh kasus~
“LIBERALISME”
Rabu, 13 Agustus 2014
Seminar: Are You with the Right Partner?
ARE YOU WITH THE RIGHT PARTNER?
During a seminar, a woman asked,” How do I know if I am with the right person?”
The author then noticed that there was a large man sitting next to her so he said, “It depends. Is that your partner?”
In all seriousness, she answered “How did you know?”
"Let me answer this question because the chances are good that it’s weighing on your mind." replied the author.
Here’s the answer:
Every relationship has a cycle… In the beginning; you fall in love with your partner. You anticipate their calls, want their touch, and like their idiosyncrasies. Falling in love wasn’t hard. In fact, it was a completely natural and spontaneous experience. You didn’t have to DO anything. That’s why it’s called “falling” in love.
People in love sometimes say, I was swept of my feet. Picture the expression. It implies that you were just standing there; doing nothing, and then something happened TO YOU.
Falling in love is a passive and spontaneous experience. But after a few months or years of being together, the euphoria of love fades. It’s a natural cycle of EVERY relationship.
Slowly but surely, phone calls become a bother (if they come at all), touch is not always welcome (when it happens), and your spouse’s idiosyncrasies, instead of being cute, drive you nuts. The symptoms of this stage vary with every relationship; you will notice a dramatic difference between the initial stage when you were in love and a much duller or even angry subsequent stage.
At this point, you and/or your partner might start asking, “Am I with the right person?” And as you reflect on the euphoria of the love you once had, you may begin to desire that experience with someone else. This is when relationships breakdown.
The key to succeeding in a relationship is not finding the right person; it’s learning to love the person you found.
People blame their partners for their unhappiness and look outside for fulfillment. Extramarital fulfillment comes in all shapes and sizes.
Infidelity is the most common. But sometimes people turn to work, a hobby, friendship, excessive TV, or abusive substances. But the answer to this dilemma does NOT lie outside your relationship. It lies within it.
I’m not saying that you couldn’t fall in love with someone else. You could. And TEMPORARILY you’d feel better. But you’d be in the same situation a few years later.
Because (listen carefully to this)
The key to succeeding in a relationship is not finding the right person; it’s learning to love the Person you found.
SUSTAINING love is not a passive or spontaneous experience. You have to work on it day in and day out. It takes time, effort, and energy. And most importantly, it demands WISDOM. You have to know WHAT TO DO to make it work. Make no mistake about it.
Love is NOT a mystery. There are specific things you can do (with or without your partner), just as there are physical laws of the universe (such as gravity), there are also laws for relationships. If you know how to apply these laws, the results are predictable.
Love is therefore a “decision”. Not just a feeling.
Remember this always: the universe determines who walks into your life. It is up to you to decide who you let walk away, who you let stay, and who you refuse to let go!
Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART VI (PROLIFERASI DAN ASIMETRI PEPERANGAN)
Mata kuliah Resolusi Konflik SEMESTER VI Military Technology and Conflict by Geoffrey Kemp Proliferasi dan Asimetri...
-
Mata kuliah ASAS MANAJEMEN Tugas: Memberikan resume dari sebuah buku pengantas teori Asas Manajemen, kemudian berikan kritik dan saran ...
-
Salam. Kali ini saya akan sharing seputar resume lama saya dari Thomas Outley. Beliau sering dirujuk oleh penstudi ekonomi politik internas...
-
Mata Kuliah Studi Masyarakat Melayu SEMESTER VI MASUKNYA MELAYU KEDALAM NKRI Sebelum membahas mengenai masuknya Melayu ked...

