Tampilkan postingan dengan label Alan Cassels. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alan Cassels. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2014

Book Resume: Ideology and International Relations in the Modern World : Alan Cassels (translate & summary) : Populist Ideologies (BAB V)

Wouldnt be complete, if you are a student of international relations, but have never read a book by alan Cassel. As in some of my previous posts about alan Cassel, which may be easier for you to understand the book, I still recommend to download the real one, because it is actually more interesting to read.

Because in fact at the firts, the purpose of publishing this in my blogs is the way i keep my paper works, so it wouldnt be lost. And also, it will help me if i want to re-read it wherever i want to access it, reminded me a little about Alan Cassels writing. But still, because it is published. Anyone can read. And every writing is always going to be useful and interesting to read, hope it is too... :) Love to Share, Hrnola.

Mata kuliah Ideologi dan Ketahanan Nasional
SEMESTER II
 


IDEOLOGI POPULIS

Kemunculan Demokrasi Modern telah diisukan pada sebelumnya, yang mengusung dua sumber, yakni : Revolusi Perancis dan Industrialisasi, yang kekuatannya digabungkan setelah tahun 1870. Sepanjang abad ke-19 pengertian mengenai kedaulatan rakyat dan hak-hak manusia serta revolusi mulai disebarkan, kecepatan penyebarannya setara dengan kecepatan penyebaran paham liberal dalam membentuk hegemoni ideology pada decade sebelumnya, meskipun saat ini paham liberal penuh telah tergantikan dengan adanya paham nasionalisme liberal setelah 1848. Paham nasionalisme liberal memasukkan unsur nasionalisme dan meskipun tetap mendukung kepemilikan properti, namun paham ini pada prakteknya memberikan perhatian juga kepada  tujuan meningkatkan masa pekerja dan kelas-kelas menengah.

Pada awal abad ke-19, terjadi perubahan besar dalam sejarah Eropa. Terjadi peningkatan populasi hingga 100.000 dengan 1850 lebih tinggi dari setengah jumlah penduduk Inggris yang tinggal didaerah perkotaan, dan pada akhir abad ke-19, empat per lima penduduk Inggris dan setengah dari populasi Jerman tinggal di perkotaan. Urbanisasi ini merupakan konsekuensi tak terelakkan dari revolusi industri yang didukung secara fisikal oleh demokrasi modern. Selain itu, peningkatan masyarakat yang menjadi penduduk perkotaan membuat mereka meninggalkan rasa kesetiaan baik secara regional maupun spiritual yang kuat saat masih menjadi masyarakat tradisional. 

Keterlibatan massa semakin melebar menjadi dua bentuk utama, pertama dalam hal pembebasan, keinginan mencapai kesetaraan hak, baik hak antar laki-laki, maupun hak antar laki-laki dan perempuan, hak suara, hak pilih, telah menjadi hal yang sering mencuat dibeberapa Negara bagian di Amerika; kedua, banyak pekerja menuntut perlindungan wajib yang disponsori Negara secara asuransi terhadap pekerjaannya (dalam hal ini, kaum Bismark memimpin tuntutan tersebut) hingga akhirnya pada 1880-an Reichstag menyetujui tuntutan tersebut dengan kategori asuransi ; asuransi kecelakaan industri, sakit, cacat, dan dana usia tua, yang kemudian prosedurnya menjadi contoh bagi dunia industri lainnya, kemajuan ini memberikan langkah baru dalam kode etik tenaga kerja, sekaligus membuktikan bahwa penting peranan pemerintah nasional memberikan dampak langsung terhadap kehidupan para pekerja. 

Selain itu, kebijakan ini memberikan dampak bagi kesejahteraan embrio penduduk, para pekerja kemudian memiliki untuk pertamakalinya daham dalam sejarah masyarakat nasional. Namun, kebebasan dan demokrasi yang diberikan Negara bagi mereka, harus digantika dengan rasa nasionalisme yang tinggi, mereka dituntut untuk mematuhi hukum, menjauhkan diri dari revolusi, serta memberikan kesetiaan penuh pada Negara dan bangsa dikancah internasional. Secara singkat, Negara telah memberikan demokrasi bagi warga negaranya, namun sebagai gantinya mereka harus terikat kepada rasa nasionalisme. Sebagaimana dituliskan oleh seorang Sejarawan Nasionalis Liberal Jerman, Heinrich von Treitschke pada tahun 1848 “Sosialis tidak berdasarkan kepada keegoisan, yang penting adalah setiap individu hanya harus ingat bahwa ia tetap merupakan bagian dari keseluruhan, menyadari bahwa dirinya juga tidak dapat hidup sendiri, dan lebih indah apabila mampu saling berkorban untuk satu sama lain”, pernyataan ini dikenal sebagai “nasionalisme terpisahkan”.

Untuk tetap menjaga rasa nasionalisme dalam setiap pemberian hak-hak demokratis, Negara kemudian merasa perlu untuk menjadikannya ajaran penting di sekolah-sekolah sejak dini, pendidikan kewarganegaraan diajarkan dalam instruksi patriotism dan nasionalisme eksklusif dalam berbagai bentuk, seperti pengajaran nyanyian lagu kebangsaan, pengajaran Sejarah,  hingga Geografi, pengenalan Otobiografi, dan hal-hal sederhana seperti menggantungkan peta dunia di ruang kelas, peninggalan cap Kerajaan Inggris, penguraian teks di sekolah, dan sebagainya. Kaisar Jerman, Wiliam II pernah mengatakan dalam sebuah konferensi tahun 1890 bahwa: “Merupakan tugas kita untuk mendidik anak-anak muda untuk menjadi Jerman sesungguhnya, bukan Yunani, atau juga Romawi”. Bahkan dibeberapa Negara, salah satu contoh yang paling keras ialah Amerika, Amerika memaksakan para pendatang yang masuk ke Amerika Serikat untuk mempelajari pendidikan patriotic Amerika Serikat, terutama dalam penggunaan bahasa Inggris dan dituntut setia terhadap bendera Amerika Serikat. Sekolah-sekolah di Amerika Serikat bahkan mencetuskan moto “Sekolah Untuk Bangsa! Semua Pendidikan Untuk Bangsa! Semuanya Untuk Bangsa!”.

Pada akhir abad ke-19, tingkat melek huruf dunia industri telah membuat kemajuan yang luar biasa., 80-95% orang Inggris, Eropa, Jerman, Skandinavia di Amerika Serikat bagian barat dapat membaca dan menulis, terjadi ledakan sastra kemudian, dan sekaligus meningkatkan jumlah jurnal dan produksi serta konsumsi surat kabar, di Eropa jumlah jurnal mencapai dua kali lipat dalam 20 tahun. Namun yang lebih penting, selain peningkatan numerik, adalah perubahan dalam gaya pers dan jurnalisme pada tahun 1890-an. Cakupan berita juga diperluas menggapai luar kelas menengah, dan mengurangi harga jual mereka, kemudian mengandalkan iklan untuk menyeimbangkan biaya. 

Surat kabar juga saling berlomba dalam penyajian berita, isu-isu disederhakan namun berusaha untuk tetap sensasional, isi berita kejahatan berubah, dan lebih banyak ruang bagi kolom gossip, namun berita tentang internasional tetap diangkat, dan pada realitanya justru cocok dikombinasikan dengan topik-topik lainnya dalam pers. Selain itu berita mengenai olahraga, seperti sepakbola dan baseball menjadi berita yang sering dikomersilkan, menjadi berita paling berkembang dikonsumsi pusat kota, sebagai peningkat semangat diakhir pekan maupun mengurangi kejenuhan ditempat kerja. Surat kabar “Yellow Jurnalism” adalah yang paling sukses di Inggris, dan untuk sementara perang yang berlanjut adalah perang antar persaingan jurnalisme. Kondisi ini menjadi iklim baru dalam dunia internasional, terutama perubahan terjadi dalam penanaman nasionalisme yang mulanya lebih terfokus kepada pengajaran dan pelatihan wajib militer bagi anak-anak dan laki-laki di beberapa Negara.

Oleh sebab itu, akhir abad ke-19 lebih cenderung kepada gabungan antara social ekonomi dengan teori nasionalisme. Wajib militer dibeberapa Negara masih tetap ada, namun dikombinasikan dengan adanya pendidikan dasar, serta pers. Masa dikenakan rentetan propaganda patriotic. Akan tetapi kemunculan Demokrasi Modern tidak menutup munculnya teori-teori dan paham baru serta gerakan-gerakan lama, seperti ideology Pan-Slavisme di Rusia dan Pan-Germanisme di Jerman. Berbagai doktrin baru juga muncul dari kelompok-kelompok etnis, suku, dan ras, sebuah kolaborasi tingkat baru yang cukup unik sebagai pembukaan abad ke-20, seperti Pan-Mongolianisme yang dibentuk untuk mengekspresikan aspirasi ras berkulit kuning, Pan-Turanianisme yakni yang terdiri atas komunitas orang-orang ras asli Finlandia, Magyar, dan Turki, Pan-Islam, dan sebagainya.

Sementara itu, beberapa ahli mengatakan bahwa Demokrasi Baru akan menghasilkan imperialism baru sebagai krisis kapitalisme yang disebabkan oleh kelebihan produksi dan ditandai dengan pergeserah kewirausahaan ke kapitalisme keuangan dan monopoli, sebagaimana ditulis oleh J.A Hobson, “Membangun Imperialisme” (1902) dan Rudolf Hitler dalam “Keuangan Kapital” (1901), ketika batasan-batasan telah dihilangkan dan akhirnya memunculkan ancaman baru dalam system internasional.



PS: Hope what i share, isnt make somebody in some place lazy to read the real one, or just "copy and paste" this for finish their home work.

Book Resume: Ideology and International Relations in the Modern World : Alan Cassels (translate & summary) - Bismarck and Monarchial Solidarity BAB V



 Mata kuliah Ideologi dan Ketahanan Nasional
SEMESTER II
 


BISMARCK DAN SOLIDARITAS MONARKI
Pada beberapa tahun setelah tahun 1870, garis lurus ideologi dalam hubungan internasional kembali kepada bentuk Pra Perang Krimea (Crimean War Shape), yakni perang yang terjadi antara kekaisaran Rusia melawan sekutu. Khususnya pada 6 Juni 1873, tiga kekuatan konservatif, yakni Austria-Hungaria, Rusia, dan Jerman Baru berkolaborasi dan membentuk Dreikaiserbund atau Liga Tiga Kaisar. Sebelumnya, kolaborasi antar ketiga Negara tersebut pernah dibicarakan dalam Konvensi Münchengrätz pada tahun 1833, dengan bahasan alasan tujuan yang juga sama dalam tujuan pembentukan Liga Tiga Kaisar saat ini. Awalnya gagasan untuk berkolaborasi muncul hanya diantara Austria – Hungaria, yang dilatarbelakangi oleh kesamaan rasa takut terhadap kebijakan kerja tujuan lintas damai yang dilancarkan oleh Kekaisaran Ottoman terhadap Wina dan St. Petersburg, yang kemudian bersatu pada tahun 1872. 
Selain itu Austria – Hungaria merupakan Negara yang sama-sama baru keluar dari kekuasaan Itali dan Jerman, dan keduanya tengah berupaya untuk memulihkan prestise mereka di Balkan. Hal tersebut yang kemudian mendorong keinginan untuk berkolaborasi, hingga pada tahun 1833, Prussia (Jerman Prusia) bergabung dalam kesepakatan dan sekaligus menegaskan keterikatan solidaritas monarkis diantara ketiganya. Konvensi Münchengrätz kemudian diselenggarakan, dengan agenda pertama yakni untuk melayani masalah di Wina dan St. Petersburg, membantu mencapai tujuan Austria-Hungaria, dan untuk menangani masalah Rusia yang tengah  berlindung dibelakang Perang Franko-Prusia dan niat baik kelompok Bismark untuk menanggalkan demiliterisasi paska perang Krimea di Laut Hitam.. Selain itu Dreikaiserbund (Liga Tiga Kaisar) juga berfungsi dalam perbaikan hubungan antara Austro-dan Rusia.
Seiring dengan munculnya Liga Tiga Kaisar, muncul ideology baru di era hubungan internasional, yang dikenal dengan sebutan Bismark. Paham Bismark mengusung simbol semangat kekuatan revolusioner, sebagaimana dilakukan oleh kaum Bonaparte di Perancis. Fokus perhatian Bismark memang terhadap Perancis, kelompok ini menentang adanya kekuasaan yang dipegang oleh tiga Negara besar, tetapi lebih baik apabila lima Negara besar, dengan salah satunya adalah Negara Perancis, dan menjadikan Perancis sebagai bündnisfähig (sekutu kredibel) dengan Prusia. Oleh sebab itu adanya pembentukan kerjasama Tiga Negara Konservatif (Liga Tiga Emperor) memiliki keterkaitan dengan paham Bismark, karena keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni menyatukan Austro dengan Rusia, yang selama ini memiliki hubungan sangat buruk, dengan warisan dendam turun-temurun, terutama saat kemenangan Prusia pada tahun 1870 terhadap Perancis.  
Akan tetapi, tujuan tersebut tidak tercapai dengan lancar, berbagai kendala berat terjadi, dan memuncak pada perang mengerikan tahun 1875, dengan Jerman sebagai pencetus perang pada tahun 1870. Kelompok Bismark muncul dan mengancam dengan diplomasi, akan tetapi upaya tersebut gagal, menjadi rekor pertama ketidak mampuan Liga Tiga Kaisar. Namun perang 1875 tersebut bukanlah hambatan besar satu-satunya, pada tahun 1820-an dan 1850-an muncul masalah yang lebih besar di Timur. Timur mendeklarasikan ideologinya yang disebut sebagai Slavisme, yang dipromosikan oleh Duta Pan-Slavisme Rusia di Konstantinopel. Munculnya ideology baru tersebut, seiring dengan diperintahkannya tentara Serbia oleh Rusia untuk merambah Balkan dan menantang Habsburg. Pembentukan Liga Tiga Kaisar selama kurun waktu hampir tiga tahun, justru membuka konflik, terutama setelah munculnya Pan-Slavisme yang diusung Rusia, dan Bismark yang dianut oleh Austro-Hungaria, yang terjalin dalam jalur Balkan, sementara itu disisi lain, kanselir Jerman berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam konflik tersebut.
Dapat diprediksikan, krisis yang terjadi di Timur tersebut telah membawa Inggris keluar dalam kediamannya. Sebagaimana dalam Perang Krimea, reaksi Inggris sangat emosional dalam menanggapi perang Rusia dan Negara sekutunya. Hal ini dikarenakan masalah yang ditimbulkan oleh konflik tersebut yang dapat mengganggu jalur perdagangan dan hubungan Inggris ke India, selain itu dapat menimbulkan benturan filsafat politik, sebagaimana ditulis oleh Gladstone dalam Horrors Bulgaria (1876) mengenai Perang Krimea, yang terjual hingga 40.000 eksemplar dalam beberapa bulan. Selain itu, bertentangan dengan apa yang ditulis oleh Gladstone, yang lebih mendukung untung memerangi Perang Krimea dan berupaya untuk menghidupkan paham liberalisme idealis, Disraeli juga menulis mengenai konflik Timur ini, dalam tulisannya perang Timur di jalur Balkan ini, tidak hanya memberi dampak bagi benturan filsafat politik dan jalur perdagangan, akan tetapi juga kepada munculnya imperialisme baru yang akan merevolusi urusan internasional.

Actually this isn't my work part. This should belong to my friend. But he couldnt make it. So i help him. Although we are in the same team work. So... if he to long working this translate. He will put me too in dangerous. Anyway, Alan Cassels is one of my Favorite writers in International Relation. in his books, when i read it, always i could discover, explore, something new, or term that i never heard before. If u want to read the book also, u can mention me!

Love to share this Monday :) Have a Nice Day~

Book Resume: Ideology and International Relations in the Modern World : Alan Cassels (translate & summary) - the difference between pasifisme and pasificisme


MK                 : Ideologi dan Ketahanan Pancasila
 SEMESTER  : II

KONTRA - IDEOLOGI NASIONALIS

Sebuah kondisi berbahaya apabila nasionalisme demokrasi dan imperialisme ditanamkan dalam hubungan internasional pada saat ini. Gagasan yang menyatakan bahwa penanaman ideologi nasionalisme dan imperialisme merupakan strategi efektif untuk dipergunakan saat ini, hanyalah sebuah keyakinan naïf tentang keinginan untuk mencapai kemajuan otomatis, karena pada dasarnya ideologi nasionalisme demokrasi dan imperialism hanyalah sebuah warisan masa lalu yang berlebihan. Melalui teori pencerahan pada abad ke-19, membuktikan kekuatan langsung dari kecerdasan pengetahuan manusia, serta dapat melahirkan teknologi-teknologi luar biasa, dikonfirmasikan oleh teori evolusi Darwin yang menunjukkan bahwa manusia mengalami kemajuan (meskipun teori Darwin tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa pihak manusia). Sebagaimana pula yang terjadi pada nasib gerakan perdamaian yang muncul pada akhir abad ke-19. Pada topik ini, para sarjana mengklasifikasikan kedalam dua perbedaan, yakni antara pasifisme dan pasificisme.

Kelompok pasifisme pada intinya menegaskan suara terhadap pentingnya melestarikan individu, yang berdasarkan kepada nilai-nilai agama, kepercayaan, atau hati nurani, dan oleh sebab itu pula pengambilan hidup seseorang dalam situasi apapun tidak diperkenankan.  Penegasan seperti ini dapat pula disebut sebagai suatu ideologi. Meskipun pandangan mereka mempengaruhi terjadinya perbedaan pandangan dengan berbagai penegak hukum sah di dunia, akan tetapi dalam hubungan internasional, peran mereka tidak terlihat. Perbedaan dengan kelompok pasificisme adalah bahwa pasificisme dalam hal advokasi perdamaian dalam konteks sosial politik terlihat lebih memiliki kepedulian, pasificisme misalnya, mengajarkan reformasi kelembagaan untuk mencegah atau menghapuskan perang. Terhadap ideologinya, kaum pasificisme memang terlihat cenderung mendesakkan semangat ideologinya, akan tetapi mereka juga menyiratkan penerimaan parsial realitas dalam daya saing internasional.

Dalam prakteknya, perang untuk tujuan perolehan keadilan atau perang defensive, sering pula disebut sebagai sebuah tindakan “patriotik” atau sering juga disebut sebagai “pasifisisme politik”, sebutan ini pertamakali diperkenalkan oleh kritikus filosofi abad ke-18 yakni Machiavelli, yang ditegaskan kembali pada abad berikutnya seorang internasionalis liberal pengikut Machiavelly, yakni Cobden dan Gladstone, yang menjabarkan bahwa “pasifisisme” ialah sebuah istilah yang identik menunjuk kepada kekuatan pendorong seperti kekuatan yang mendorong gerakan kedamaian tahun 1914.

Akan tetapi, tidak hanya pada saat kebangkitan nasionalisme yang memberikan kelompok internasionalis pasificistic sebuah tanda peringatan. Pada masa pemerintahan neo-mercantilisme juga dinyatakan bahwa hal itu perlu dilakukan untuk merangsang perkembangan industri nasional oleh kontrak persenjataan, karena pada prediksinya, perlombaan senjata pada masa selanjutnya akan lebih merusak daripada konflik yang terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Ivan Bloch, seorang pengusaha Eropa Timur menulis sebuah karya mengesankan, terdiri atas 6 bagian, dan untuk pertamakali diterbitkan di Rusia, berjudul The Future of War (1898) yang menggambarkan perang sebagai suatu ‘goncangan tatanan sosial’ yang umum terjadi dan tidak mungkin dihilangkan. Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai kasus peperangan dan konflik yang tidak dapat atau sulit untuk dipadamkan, meskipun terdapat peran-peran dari gerakan-gerakan perdamaian.

Sebagaimana pula ditulis oleh seorang wartawan Inggris, Norman Angell pada tahun 1909 berjudul Optical Illusion, yang kembali dimunculkan pada tahun berikutnya dengan perluasan judul menjadi The Great Illusion. Angell menggambarkan bahwa setelah perang persenjataan berakhir, akan muncul jenis perang baru, dengan kata lain, perang sesungguhnya belum berakhir. Angell menggambarkan argumennya tersebut sebagai jenis perang modern atau “Ilusi (illusion)”, Angell menyatakan bahwa jenis perang ini memberikan keuntungan kepada semua pihak, baik yang menang, maupun yang kalah, yang pada dasarnya sama saja, karena peperangan modern memberikan sebuah ketergantungan pada semua struktur perekonomian nasional. The Great Illusion menjadi buku terlaris pada tahun 1913, dengan terjualnya dua juta eksemplar, dan oleh sebab itu menjadikan Angell sebagai penulis yang mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Argumen Angell pada dasarnya menegaskan bahwa “apabila perang tidak mendatangkan sebuah keuntungan atau manfaat, maka mustahil seorangpun dalam lingkup rasional dunia internasional mulai melakukannya”, rasa “puas” saja merupakan sebuah alasan irasional dalam suatu keadaan memicu perang.

Perang Besar kemudian terjadi dan membuktikan argumen Bloch dan Angell adalah benar. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat perjuangan gerakan perdamaian. Akan tetapi titik kepada tradisi dan masa depan liberalisme internasionalisme tampak lebih kuat tertanam, terutama di Inggris. Inggris menghidupkan liberalisme dalam kebijakannya, selain itu, mereka juga menghidupkan kembali kritik yang pertama kali disuarakan oleh Paine dan Bentham mengenai kerahasiaan keputusan diplomatik yang terselubung. Liberalisme mencapai puncaknya sekitar tahun 1912, sekaligus menjadi rumor akan munculnya struktur Anglo-Perancis, serta menjadi latar belakang terjadinya kampanye diplomasi demokratis (diplomasi terbuka), dan menjadi ceruk dalam program yang dicanangkan oleh Presiden AS Woodrow Wilson untuk mereformasi politik internasional paska Perang Dunia I.

Berawal dari kelompok oposisi pasificistic nasionalisme hingga nasionalisme popular dan armaments (persenjataan), keduanya menjungjung nilai moral dan pragmatisme; sedangkan kelompok sosialis yang muncul adalah bentuk oposisi yang lebih tegas dan bergerak berdasarkan kepada ideologi. Gerakan sosialis merupakan gerakan yang juga besar, dengan pengecualian dikawasan Inggris hingga Amerika. Gerakan ini terbentuk bersumber dari doktrin yang dituliskan dalam karya-karya Karl Marx. Akan tetapi pemahaman dan argument mengenai “nasionalisme”, perang dan perdamaian, semuanya masih terlihat ambigu.  Hingga pada tahun 1848, Marx menyatakan kepercayaannya bahwa nasionalisme bagi kelas pekerja akan lenyap dengan keberhasilan revolusi proletar, argument Marx ini kemudian terkenal dalam “Manifesto Komunis” (1848) yang pada dasarnya menekankan bahwa “apabila pekerja tidak memiliki Negara untuk membela, maka Negara juga tidak dapat mengambil dari apa yang mereka tidak punya”. Marx dalam hal ini menentang adanya nasionalisme yang berkembang didunia, akan tetapi hingga 35 tahun sisa hidupnya, Marx tidak dapat menghindari bukti bahwa rasa nasionalisme memang memiliki peran popular didunia. Marx hanya mengklaim bahwa hal itu hanya bentuk atau fase suprastruktur masyarakat borjuis.

Aspek pertentangan yang diajukan paham Marxisme kemudian melahirkan “sosialis internasional”, yang pertama kali muncul pada tahun 1864-1876, yang memiliki pandangan lebih romantis, dan menyentuh, berbeda dengan paham Marxis sebelumnya. Akan tetapi antara Sosialis Internasional I dengan Sosialis Marxis, keduanya sama-sama menentang kuat politik global yang terjadi saat ini. Pada tahun 1889 muncul paham Sosialis Internasionalis II, dengan cakupan pemahaman lebih luas dan meliputi segala macam pemikiran sosialis yang ada. Akan tetapi kemunculan paham Sosialis Internasionalis II bertepatan dengan bangkitnya nasionalisme popular dan imperialisme, sehingga sejak awal, Sosialis Internasionalis II memiliki kondisi lebih rumit daripada sosialis sebelumnya.  Sosialis mengutuk adanya pengeluaran untuk militer dan tentara, Sosialis memvonis hal tersebut sebagai bentuk tirani domestik dan agresi luar negeri. Sosialis lebih menyetujui tindakan pertahanan milisi rakyat yang dipelopori oleh kaum revolusioner Amerika dan direalisasikan oleh Perancis pada tahun 1793 dan Jerman pada tahun 1813. Kemunculan Marxisme revisionis atau reformis membuat kesan terdalam pada periode abad ke-19 terhadap perang dan perdamaian.

Pada tahun 1904 dalam Kongres Amsterdam isu reformisme Sosialis mencuat dan penolakan Marxis reformis ortodoks memenangkan suara mayoritas. Kemenangan selanjutnya juga diperoleh dalam kongres Stuttgart pada tahun 1907. Resolusi Amsterdam dan Stuttgart menjadi sebuah kertas nyata wujud keberhasilan bagi kaum Marxis Ortodoks. Kebangkitan Sosialis tersebut pada dasarnya ingin memperjuangkan percepatan serta penghapusan sistem dan aturan yang diciptakan oleh kapitalis kelas. Sebagian besar partai sosialis terus mengejar jalan evolusi menuju sosialisme dengan cara konstitusional.

Jerman pada tahun 1912, muncul partai Sosialis paling sukses dan kuat yakni Sozialistische Partei Drutschlandg (SPD). Angka-angka perolehan pemilu yang diperoleh SPD menunjukkan seberapa penuhnya SPD sedang diintegrasikan kedalam struktur politik dan masyarakat di Reich, Jerman. Salah satu tanda nyatanya ialah adopsi partai-partai tradisional terhadap nilai-nilai nasionalis Jerman. Akan tetapi dengan keberadaan nyata Negara Rusia yang menganut penuh sistem Sosialis, dan dinobatkan sebagai “juara kekejaman, kebiadaban, serta musuh dari semua kebudayaan manusia”, memunculkan ketakutan terhadap akan terwujudnya otokrasi, bahkan kebencian dalam masyarakat terhadap paham Sosialis. Bahkan muncul anggapan bahwa, apabila memerangi dan berhasil mengalahkan Rusia, maka sama saja artinya bagi kekalahan demokrasi sosial. Citra terhadap paham Sosialis kemudian semakin memburuk terutama setelah gagalnya Revolusi Rusia pada tahun 1905.

Beberapa masyarakat Sosialis kuat di Jerman kemudian mengungkapkan bahwa mereka memiliki kecendrungan nasionalis yang berbeda arahnya dengan sosialis Rusia. Akan tetapi pernyataan tersebut tidak menutup hambatan berkembangnya kaum sosialis di Jerman dan Perancis. Pertentangan muncul terhadap pola pemikiran dan hati dihampir terjadi semua Negara  pada tahun 1914, dan mengakibatkan gagalnya Sosialis pada abad ke-19, dan sebaliknya memudahkan masuk dan berkembangnya Konservativisme dan Liberalisme, dengan membawa paham “Demokrasi Baru”. Namun pada dekade setelah Perang Dunia I, Negara diasumsikan menganut idiologi Marxis-Leninisme secara total.

Meskipun agitasi anti-perang sebelum tahun 1914 oleh kedua sosialis dan pacificists tidak efektif, dua gerakan tersebut tidak kurang mengatur panggung untuk pertandingan pascaperang ideologis internasional. Sementara Marxis ortodoks lebih cenderung mengarah kepada arah pemikiran Leninisme, kritikus liberal politik kekuasaan menaruh harapan mereka kepada Woodrow Wilson. Leninisme dan Wilsonianisme akan menawarkan dunia yang dilanda perang dengan dua resep berbeda untuk suatu tatanan internasional yang baru.

Jumlah Kata : 1. 373 kata


I made this in my 2nd Semester, this is the first step i learn how to arrange word by "pharafrase" and   pick a good word when translate. Thats why this not really perfect to read. But... can help you little bit. :)

Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART VI (PROLIFERASI DAN ASIMETRI PEPERANGAN)

Mata kuliah Resolusi Konflik SEMESTER VI Military Technology and Conflict by Geoffrey Kemp Proliferasi dan Asimetri...