Tampilkan postingan dengan label Geoffrey Kemp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geoffrey Kemp. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2018

Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART VI (PROLIFERASI DAN ASIMETRI PEPERANGAN)


Mata kuliah Resolusi Konflik
SEMESTER VI


Military Technology and Conflict
by
Geoffrey Kemp



Proliferasi dan Asimetri Peperangan

Ini akan menjadi sebuah ironi yang penting, jika salah satu efek dari peningkatan senjata non-nuklir adalah untuk menciptakan senjata kimia, senjata biologi, dan senjata nuklir (CNB) pilihan jalan terburuk untuk biaya kekuatan konvensional yang tinggi. Tidak ada keraguan bahwa kedua Iran dan Irak menanggap senjata CNB sebagai kekuatan equalizer ketika mempertimbangkan konflik dengan Amerika Serikat.
Pelajaran dari Perang Teluk dan selanjutnya dalam konflik di Kosovo, mendorong minat yang lebih besar dalam pengembangan strategi asimetri yang memberikan kemungkinan bagi negara-negara terkecil dan termiskin untuk mencegah kekuatan utama. Hal ini menunjukkan keadaan bahwa jika tidak mampu untuk mensejajarkan kapabilitas teknologi canggih dan kekuasaan, maka solusi lain adalah dengan mempergunakan kemampuan apapun yang dimiliki yang dapat dipergunakan untuk melawan ataupun mengancam ketangguhan kekuatan Barat, yang tentu saja memiliki toleransi yang rendah dalam konteks perang.
Pada dasarnya terdapat dua cara untuk mengancam Achilles Barat, yaitu 1) melalui terorisme yang disponsori oleh negara, dan; 2) dengan mengembangkan senjata pemusnah masal (WMD/ Weapons of Mass Destruction), keduanya dapat dipergunakan baik secara langsung untuk melawan kekuatan Barat atau diberikan pada grup teroris untuk melakukan operasi rahasia melawan militer Barat dan target-target sipil. Sedangkan keunggulan teknis dari pasukan militer Barat telah menghilang dari kekuatan ke kekuatan pada dekade lampau, kekhawatiran parallel tentang kerentanan masyarakat Barat terhadap terorisme dan senjata pemusnah masal telah tumbuh. Penggunaan julukan “rogue states” oleh pemerintah Amerika Serikat kepada negara-negara yang memiliki kemampuan atas jenis strategi ini menjadi lumrah pada setengah tahun setelah tahun 1990an. Keprihatinan dimotivasi oleh aksi negara-negara seperti Korea Utara, Irak, Iran, dan Libya, juga beberapa negara kategori rendah seperti, Syria, dan Kuba. Korea Utara, Irak, Iran, dan Libya telah mendemonstrasikan ketersediaan mereka untuk mendukung terorisme internasional dalam melawan target-target Barat sebagaimana kapasitas untuk mengembangkan senjata kimia, biologi, dan senjata nuklir, serta rudal sebagai sarana penyampaian. Akibatnya, Amerika Serikat telah mengembangkan sejumlah strategi proliferasi perlawanan yang sangat rumit, yang dirancang untuk mencegah, dan jika perlu, mengimbangi perkembangan tersebut. Beberapa upaya telah berhasil melebihi yang lainnya. Sebagai senjata, termasuk pemusnah missal, terus berkembang biak di daerah konflik ekstrim seperti Teluk Persia dan kawasan Asia Selatan dan Asia Timur, ada peningkatan harapan dan tekanan untuk mengembangkan dan menyebarkan system pertahanan rudal yang dapat melindungi mereka dari kekuatan serangan Amerika Serikat. Namun, apakah teknologi modern tersebut dapat melindungi mereka dari serangan terorisme?.
Peristiwa pemboman WTC (World Trade Center) pada 26 Februari 1992, merupakan pertanda dramatis terhadap sesuatu yang akan muncul. Enam orang tewas dalam serang ini, namun menurut hakim ketua di pengadilan, serangan itu dimaksudkan untuk menggulingkan satu menara ke menara lainnya di awan gas sianida, dan akan menyebabkan pulahan dari ratusan orang Amerika akan tewas. Kristal gas seharusnya menguap dalam ledakan, namun dalam peristiwa ini gas tersebut justru terbakar. Pada tahun 1995 di Tokyo, kaum fanatik melepaskan gas sarin di kereta bawah tanah, peristiwa ini juga sangat janggal, karena apabila gas tersebut bekerja sebagaimana direncanakan, maka ribuan warga Tokyo akan tewas, dan tidak sulit untuk menciptakan kekacauan dan kengerian selanjutnya. Kejadian di Tokyo dan WTC merupakan kegagalan. Di Rusia juga pernah terjadi, ketika pemberontak Chechnya menyandera ribuan orang dalam tindakan perjuangan mereka untuk menciptakan kemerdekaan melawan Moskow. Peristiwa-peristiwa seperti ini merupakan kategori tindakan terorisme yang besar (megaterorisme) terutama terkait kepada upaya untuk membunuh atau menyandera ribuan orang. Namun itu bukan satu-satunya forum terorisme, pertumbuhan internet dan perkembangan dunia maya sebagai sarana berkomunikasi dengan orang-orang diseluruh dunia, dan kepekaannya yang luar biasa terhadap pasar keuangan dunia, dan hal-hal yang sangat teknis lainnya, meningkatkan kemungkinan kemudian terjadinya terorisme dalam bentuk cyber. Cyber Terorism  bahkan memiliki skala yang lebih besar, karena kemampuannya untuk meruntuhkan lembaga keuangan, memicu kekacauan diseluruh system komunikasi militer, dan sebagainya.
Kerentanan masyarakat modern terhadap tindakan terorisme memang bukanlah sebuah hal yang baru, akan tetapi munculnya kelompok-kelompok yang terlibat dalam tindakan-tindakan terorisme tersebut selalu menjadi hal yang baru. Terdapat banyak sekali spekulasi tentang teroris nuklir, control senjata nuklir sejauh ini terbukti relative sukses. Tidak demikian halnya dengan dampak yang ditimbulkan oleh senjata kimia, biologi, ataupun internet dan dunia maya. Seperti juga halnya dapat dilihat dari tragedy pemboman Oklahoma pada Mei 1995 yang menunjukkan dampak sangat dasyat bagi terwujudnya kewaspadaan akibat terror. Namun terlepas dari hal tersebut, masyarakat internasional tetap harus memperlakukan ancaman terorisme ini sebagai prioritas tinggi. Terutama karena sumber terorisme begitu menyebar dan motif pelakunya juga sangat bervariasi, khususnya dalam mencegah terciptanya senjata-senjata baru pemusnah masal ataupun nuklir. Akan lebih banyak dana yang harus dikeluarkan untuk memperluas dan mempercepat penerapan dan peningkatan system keamanan, mencakup kontrol, persediaan, perlindungan. Langkah fundamental lain yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan kerjasama antar instansi pemerintah yang memantau kegiatan kelompok teroris. Dalam contoh kasus WTC, misalnya, nyaris tidak ada penghubung atau tindak lanjut antara instansi dalam negeri yang bertanggung jawab dengan badan-badan intelijen yang ahli dalam menangani terorisme yang disponsori oleh negara.

Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART VII (CASUALTY AVERSION)


Mata kuliah Resolusi Konflik
SEMESTER VI


Military Technology and Conflict
by
Geoffrey Kemp


Casualty Aversion

Casualty Aversion merupakan bentuk dari penolakan public terhadap adanya korban dalam perang. Sebelumnya bentuk penolakan ataupun keengganan terhadap terjadinya korban dalam peperangan belum pernah terjadi. Namun, selama terjadinya Perang Teluk, mayoritas public internasional mulai memberikan toleransi yang tinggi terhadap korban perang. Terdapat beberapa kelompok yang memberikan toleransi tinggi terhadap korban perang. The Triangle Institute melakukan penelitian mengenai hal tersebut, kemudian mengkategorikan kelompok casualty aversion kedalam tiga bentuk kelompok, yaitu 1) anggota militer senior atau anggota militer berpangkat tinggi; 2) warga sipil yang berpengaruh; 3) serta masyarakat umum. Tiga kelompok tersebut meminta untuk aktor-aktor yang terlibat dalam perang untuk mempertimbangkan dampak perang tersebut terhadap kematian[1].
Casualty Aversion muncul sebagai trauma masyarakat Amerika Serikat terhadap tingginya jumlah korban jiwa yang diderita oleh Amerika Serikat selama beberapa aksi intervensi yang dilakukannya dalam misi penjagaan perdamaian di beberapa perang besar memperjuangkan demokrasi. Khususnya terdapat 4 konflik militer yang mendorong munculnya kelompok casualty aversion tersebut, yaknit: 1) tingginya jumlah korban yang diderita oleh Amerika Serikat di Asia Tenggara selama Perang Vietnam, termasuk lebih dari 50.000 kematian prajurit Amerika Serikat, membuat kemudian pemimpin militer dan politik Amerika Serikat saat ini enggan untuk meletakkan kehidupan orang Amerika kedalam garis krisis yang secara langsung dapat mengancam kepentingan vital Amerika Serikat itu sendiri; 2) Perang Teluk, meskipun pada awalnya diprediksikan perang ini akan merenggut ribuan korban jiwa, namun pada hasil akhir hanya merenggut ratusan nyawa orang Amerika, tetapi pengaruh Perang Teluk menumbuhkan keyakinan orang Amerika bahwa pembentukan strategi perang dapat memperkecil jumlah korban jiwa dalam peperangan; 3) Intervensi Amerika Serikat dalam konflik di Somalia pada akhir tahun 1992 dengan misi awal untuk kemanusiaan yakni dalam menyelamatkan orang-orang kelaparan yang dilanda perang, namun misi tersebut berubah menjadi sebuah misi yang dirancang untuk melerai perkelahian satu sama lain serta konflik-konflik lain yang berasal dari luar. 
Pada misi tersebut, diatur tahapan-tahapan peleraian berupa pertemuan-pertemuan, pertemuan pertama yakni pada 3 Oktober 1993, dengan 18 jumlah prajurit Amerika Serikat yang tewas dengan keadaan yang mengenaskan, tubuh mayat prajurit tersebut diseret sepanjang jalanan Mogadishu agar semua orang dapat melihat mayat-mayat tersebut. Hingga akhirnya pada akhir Maret 1994, semua pasukan Amerika Serikat ditarik dari konflik tersebut; 4) Konflik Kosovo membawa trauma ini menjadi lebih jelas, tidak ada prajurit Amerika Serikat yang tewas akibat aksi musuh, hal ini dikarenakan strategi awal perang melawan Yugoslavia telah sangat diperhitungkan, dengan mempergunakan lebih banyak mempergunakan serangan udara dan mengesampingkan penggunaan pasukan darat. Akan tetapi serangan udara menyebabkan bom-bom yang diluncurkan pada ketinggian yang sangat tinggi merenggut jumlah korban sipil dan orang-orang tak bersalah dalam perang ini. Selain keempat jenis perang serius tersebut, terdapat pula perang-perang ekstrim yang merenggut jumlah korban yang juga tinggi, termasuk orang Amerika, namun tidak ditandai dengan penggunaan senjata berteknologi tinggi, maupun penggunaan senjata pemusnah masal, namun persenjataan yang agak primitif, termasuk parang dan tombak, serta senjata kecil dan senjata genggam otomatis. Perang ini terjadi sangat brutal di Afrika pada tahun 1990.
Munculnya penolakan atau keengganan public terhadap adanya korban dalam perang, kemudian mempengaruhi Amerika Serikat kemudian menggolongkan negara-negara dan memberikan julukan. Pada pertengahan tahun 2000, istilah “rogue states” secara resmi dijatuhkan Amerika Serikat kepada Korea Utara dan Iran, karena keputusan negara mereka untuk memodifikasi sikap revolusioner dan merupakan negara yang suka sekali berperang, berbeda dengan Amerika Serikat saat ini yang terlihat lebih berminat melakukan kerjasama daripada melakukan konfrontasi. Sementara Irak saat ini masih berada dalam pengawasan inspektur senjata PBB, pemeriksa senjata PBB, dan Amerika Serikat, karena mereka masih percaya bahwa Saddam Husein masih berupaya untuk mengembangkan senjata pemusnah masal.



[1] Ian R.S Townsend, “Casualty Aversion: the New Principle of War?”, diakses dari: www.dtic.mil/cgi-bin/GetTRDoc?AD=ADA381664, pada 17 April 2013

Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART II


Mata kuliah Resolusi Konflik
SEMESTER VI


Military Technology and Conflict
by
Geoffrey Kemp


Perang Dingin, Central Arm Race, dan Disintegrasi dengan Uni Soviet

Sejak awal 1950-an perdebatan tentang dampak teknologi militer pada sistem internasional telah difokuskan pada dua peristiwa, yakni: Central Arm Race antara NATO dan negara-negara yang tergabung dalam Pakta Warsawa, serta proliferasi teknologi senjata untuk konflik daerah di seluruh dunia. Sepanjang Perang Dingin, terjadi kontroversi yang berlangsung terkait stabilitas Central Arm Race.
Terdapat dua argumen yang sangat terbatas. Kaum Pesimis berpendapat bahwa perubahan konstan dalam teknologi senjata nuklir dan momentum perlombaan senjata membuat keseimbangan kekuatan menjadi rentan dan karena itu cenderung tidak stabil serta berpotensi membahayakan. Kelompok Pesimis ini terdiri dari mayoritas pendukung pengawasan senjata unilateral dan kelompok reduksi senjata (pro terhadap pengurangan penggunaan senjata). Kampanye Perlucutan Senjata Nuklir (CND) yang diluncurkan pada tahun 1950, serta momentum gerakan pembekuan nuklir pada tahun 1980 adalah dua contoh peristiwa yang menonjol dan menjadi garis pemikiran kaum Pesimis. Berbanding dengan argument kelompok Pesimis, kaum Optimis menyatakan bahwa perdamaian di Eropa dapat terwujud diantara negara-negara adidaya justru dikarenakan dampak perang yang mengerikan, yang kemudian menjadi renungan. Kaum Optimis tersebut terdiri dari sebagian besar pemerintah Barat yang pro terhadap prinsip-prinsip pencegahan dan mendukung adanya modernisasi nuklir sebagai cara terbaik untuk memastikan stabilitas dan keseimbangan kekuasaan antara NATO dan anggota Pakta Warsawa. Akan tetapi terdapat kesamaan pendapat diantara kedua kelompok tersebut, bahwa salah satu efek dari keseimbangan pusat kekuasaan, baik itu rentan atau stabil, adalah untuk mengekspor Perang Dingin kepada bentuk konflik area regional, yang pada gilirannya, menyebabkan percepatan penumpukan senjata regional.
Sejalan dengan argumen tentang keseimbangan kekuasaan, terdapat beberapa isu sekunder lain terkait ekonomi dari berbagai perlombaan senjata. Kaum Pesimis berpendapat bahwa baik pusat maupun daerah memiliki kepentingan dalam perlombaan senjata, yaitu keinginan negara untuk mempromosikan penjualan senjatanya. Sementara kelompok lainnya berpendapat bahwa penyebaran senjata pemusnah masal pada konflik regional dipicu oleh keengganan kekuatan industri senjata untuk memberikan senjata konvensional yang memadai, contoh adalah ketika Israel justru mengembangkan senjata nuklir setelah dikenakan embargo senjata oleh negara-negara industri kunci, serupa dengan yang dialami Taiwan, Afrika Selatan, dan Pakistan.
Teori yang paling modern dari evolusi perlombaan senjata selama Perang Dingin adalah mengenai senjata termonuklir. Senjata termonuklir memiliki kecendrungan terhadap konflik, meskipun dalam pandangan luas, termonuklir tidak memiliki potensi penghancuran sebesar senjata nuklir, ataupun senjata konvensional lainnya.  Selain itu berdasarkan perhitungan matematika, senjata termonuklir memilki durasi yang pendek dalam perang. Namun keadaan tersebut mengarahkan sebagian besar pengamat percaya bahwa selama ada hubungan simetri antara para pihak, maka keseimbangan terhadap terror akan menghalangi setiap sisi yang beresiko terhadap perang.
Meskipun masih belum jelas apakah pencegahan selama era ini secara inheren stabil atau tidak stabil, tidak dapat disangkal pula bahwa selama tiga puluh tahun terakhir terbentuknya Pakta Warsawa dan negara-negara anggota NATO dapat menikmati kondisi negara mereka yang stabil secara nominal. Stabilitas tersebut dihasilkan dari beberapa kondisi, yakni:
  • Kapasitas menghancurkan yang sangat hebat dari senjata termonuklir
  • Total integrasi senjata nuklir kedalam struktur pasukan dan doktrin militer terhadap aliansi lawan
  • Batas-batas yang jelas serta diterima dalam hal pemisahan kekuatan
  • Kebijakan eksplisit mengenai penggunaan kekuatan yang mengharuskan kedua sisi menyerang sisi lainnya.
  • Konsensus virtual terhadap kemungkinan tidak akan adanya pemenang dalam perang skala penuh (full scare war).
  • Pemahaman bahwa eskalasi perang nuklir akan sangat mungkin terjadi jika perang terpecah.
  • Jalur komunikasi yang jelas antara musuh
  • Penerimaan secara jelas dominasi Soviet dan Amerika dalam Pakta Warsawa dan keanggotaan NATO
  • Kemampuan musuh mengandung muduh untuk konflik regional diluar konflik sentral dan menolak adanya intervensi militer dalam konflik dengan aliansi
  • Rezim stabil dikedua kubu yang bertikai.
Hubungan antara teknologi militer dan acara yang paling spektakuler dalam konteks era modern – pecahnya Uni Soviet Union yang tidak jelas, peristiwa dimana negara paling otoriter dan sangat ketat dikontrol oleh pemerintahannya runtuh pada tahun 1989 dan 1991. Peristiwa tersebut sebanding dengan peristiwa pembubaran Kekaisaran Austro-Hungaria dan Ottoman pada akhir Perang Dunia I dan kekalahan kekuatan Poros pada tahun 1945. Runtuhnya Soviet Union membawa dampak mendalam dan abadi pada sistem internasional pada decade-dekade yang akan datang. Negara-negara baru bermunculan begitu cepat, dengan nama-nama dan batas-batas baru yang tersebar di seluruh daratan Eurasia, Tirai Besi salah satu negara tidak terkalahkan telah hancur, dan sebagai gantinya ratusan perbatasan baru bermunculan. Hal ini sekaligus menjadi harapan dari terwujudnya cita-cita negara Barat, yakni untuk menciptakan dan menegakkan tatanan dunia yang baru dalam memerangi komunisme. Terciptanya perdamaian, demokrasi, dan pembangunan ekonomi yang terjalin menjadi tiga serangkai masa depan. Landasan tatanan dunia baru akan menjadi lingkungan keamanan yang lebih kooperatif, dimana ornament tradisional politik – dengan kekuatan aliansi militer besar bersenjata yang siap untuk melawan satu sama lain – akan digantikan oleh sebuah konsep pertahanan yang difungsikan untuk saling memperkuat bukan menyerang. Setiap negara akan memberikan kontribusinya untuk menciptakan perdamaian dan keamanan secara keseluruhan, sekaligus turut memberikan kontribusinya untuk melawan gerakan negara aggressor yang menyimpang dari norma perdamaian dan keamanan tersebut. Fokus negara-negara, PBB, serta organisasi internasional akan mengarah kepada tujuan baru, yakni persaingan ekonomi dan kerjasama sebagai bahan utama dalam pertumbuhan global dan stabilitas politik. Dengan begitu, hubungan yang semula erat antara teknologi militer dan keamanan akan menjadi sejarah masa lalu.
Akan tetapi, keseluruhan dari harapan tersebut tidak dapat terpenuhi. Warisan paling jelas dari pecahnya Soviet Union justru adalah kekacauan dan munculnya konflik-konflik regional. Singkatnya, pecahnya Uni Soviet telah menggerogoti salah satu elemen kunci dari keseimbangan kekuasaan pada Perang Dingin. Perbatasan dan rezim yang stabil telah mendorong proliferasi lebih lanjut dari senjata dan penyebaran bentuk-bentuk terorisme yang sangat kejam. Implikasi dari kecendrungan tersebut dijelaskan Kemp pada subbab-subbab selanjutnya.

Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART IV (Perang Baru, Sikap, dan Perilaku terhadap Teknologi Militer)


Mata kuliah Resolusi Konflik
SEMESTER VI


Military Technology and Conflict
by
Geoffrey Kemp


Perang Baru, Sikap, dan Perilaku terhadap Teknologi Militer

Dalam dekade sejak pecahnya Uni soviet, sejumlah konflik kekerasan menghasilkan pemikiran baru tentang hubungan antara teknologi militer dan konflik. Beberapa contoh ini penting karena mereka mencerminkan pelajaran yang sangat berbeda. Konflik-konflik ini termasuk perang Teluk Persia tahun 1991, perang saudara tahun 1992-1993 di Somalia, tahun 1994 perang sipil dan genosida di Rwanda, dan perang Kosovo tahun 1999. Perang Teluk dan Kosovo penting karena penggunaan teknologi yang luar biasa yang dibuat oleh sekutu, khususnya yang berasal dari tenaga air, dan jumlah korban sangat sedikit. Perang di Afrika cenderung mencerminkan hal yang berbeda: kegigihan kekerasan yang meluas dengan memakan korban dalam jumlah yang besar di kedua belah pihak terutama disebabkan oleh senjata lama/kuno.
Perang Teluk telah memiliki efek yang penting terhadap paradigma tentang perang modern dan permintaan global untuk senjata dan teknologi yang canggih[1]. Perang mengungkapkan kerentanan infrastruktur dalam masyarakat modern untuk cermat dalam pemboman. Teknologi yang tinggi mampu memperbaiki tingkat kecermatan dan upaya bertahan hidup dari serangan pesawat dan jelajah rudal. Sistem keadaan global memberikan informasi navigasi yang tepat yang memungkinkan penempatan artileri yang sangat akurat, memasok logistik, dan pemetaan medan perang. Sensor termal dan peralatan malam pada tank AS dan helikopter yang memungkinkan mereka untuk menargetkan musuh di malam hari dan melalui asap tebal di kebakaran ladang minyak. Kemajuan Joint Surveillance and Attack Radar System (JSTARS), sistem yang memungkinkan pasukan AS untuk mendeteksi dan melacak target di daratan yang bergerak lambat dengan latar belakang yang berantakan. Sistem ini lebih kuat daripada sistem yang sudah tua seperti Airborne Warning and Control System (AWACS) yang digunakan untuk memandu rudal dalam penerbangan.
Industri di sebuah negara, terutama yang telah memiliki senjata nuklir, melihat perang sebagai bukti lebih lanjut dari kebutuhan untuk membatasi proliferasi senjata pemusnah massal, khususnya di bidang nuklir. Namun beberapa negara lemah yang mendapatkan serangan teknologi ditafsirkan AS dipimpin dengan cara yang berbeda. Senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya adalah satu-satunya alat yang lebih kecil, negara yang memilki kekurangan dalam hal teknologi dapat berharap untuk memperoleh dan menyebarkan dalam menghadapi pesawat siluman AS, paduan amunisi, dan kemajuan  C3I (command, control, communications, and intelligence).
Salah satu pelajaran dari konflik Teluk dan Kosovo adalah bahwa kekuatan udara ofensif merupakan faktor penentu dalam perang modern dan bahwa jika negara-negara berinvestasi miliaran dolar dalam sistem pertahanan udara yang canggih, mereka akan menjadi semakin rentan terhadap larangan kemajuan pasukan udara dari terutama kekuasaan barat, khususnya AS. Namun pelajaran lain, dipelajari oleh negara-negara demokratis yang berpartisipasi dalam konflik ini, adalah bahwa perang modern dapat dan harus menghasilkan jumlah korban yang relatif rendah untuk kekuatan yang dominan. Perang Teluk memperkuat gagasan bahwa senjata pemusnah massal mungkin diperlukan sebagai penyeimbang antara pasukan AS berteknologi tinggi dan negara-negara kecil yang menolak arahan AS dan Barat. Sementara Perang Teluk menyoroti dampak tinggi seperti persenjataan dengan teknologi, banyak negara yang menahan kenyataan fiskal mereka dan dapat memaksa beberapa untuk mempertimbangkan jalan pintas, opsi yang lebih murah untuk mengembangkan beberapa jenis senjata pemusnah massal, khususnya senjata kimia dan biologis.
Respon negara-negara tertentu untuk perang Teluk telah bervariasi. Di Rusia, yang selama bertahun-tahun telah memberikan banyak senjata kepada Irak itu, beberapa sekolah mengembangkan pemikiran tentang Perang Teluk. Beberapa melihat kejanggalan Irak sebagai penyebab buruknya kinerja peralatan Soviet. Lainnya tidak melihat ada perubahan revolusioner yang dibawa oleh penggunaan teknologi maju dalam perang, tetapi mereka tidak berpikir bahwa perang dikonfirmasi oleh sebuhah visi Soviet dalam revolusi teknis militer. Dalam arti bahwa, perang menegaskan pentingnya mengembangkan teknologi militer baru dan lebih baik. Pendekatan lain menunjukkan bahwa perang adalah awal dari berbagai jenis konflik, di mana isu sentral menjadi kontrol pasukan. Melalui koordinasi yang kuat, manuver, dan radio tempur elektronik, masing-masing pihak akan berusaha untuk menghambat kontrol pasukan musuh dan melindungi sendiri. Dalam skenario ini, pasukan darat menjadi kurang penting karena teknologi baru yang digunakan untuk menghancurkan C3I musuh dan sistem tempurnya.
Republik Rakyat China (RRC) tidak secara radikal mengubah pandangannya tentang teknologi militer karena perang Teluk. RRC sudah memulai modernisasi, dan perang hanya memperkuat tren itu. Konteks lokal dan konvensional pada perang juga sesuai dengan menggambarkan China memodernisasi pasukan militernya. Dalam Perang Teluk, unsur pimpinan China meyakini bahwa faktor manusia bisa mengimbangi keunggulan teknologi militer. Secara keseluruhan, bagaimanapun, China terus melihat perbaikan peralatan militer mereka sebagai salah satu aspek dari kendaraan yang lebih besar untuk memodernisasi ekonomi.
India mengambil salah satu pelajaran yang lebih besar dari perang setelah panglima militer India pensiunan staf mengatakan hasil perang menunjukkan bahwa musuh tidak harus melawan orang AS tanpa senjata nuklir. Di Israel, jumlah perang terus menyoroti masalah keamanan. Serangan mendadak Irak pada Kuwait, mengejutkan sebagian besar pejabat di seluruh dunia, mengingatkan Israel bahwa kecerdasan yang dimiliki bahkan sangat maju tidak menghilangkan ancaman serangan yang mendadak. Persenjataan AS memperkuat penekanan Israel pada kekuatan udara, peperangan elektronik, dan kemajuan peluru kendali.
Terletak di sebelah daerah operasi, Iran mengakui kekuatan dan kecepatan pasukan sekutu berada dalam kekalahan mantan musuh militer. Para pemimpin Iran, terbiasa dengan operasi AS seperti kecerobohan sebagai upaya penyelamatan sandera pada tahun 1980, memperoleh penghargaan baru untuk kemampuan militer AS. Arab Saudi pindah dalam dua arah sebagai akibat akibat perang Teluk. Saudi bergegas untuk membeli pesawat terbaru, rudal, dan persenjataan canggih lainnya, namun Arab Saudi tidak berniat untuk mengembangkan kemampuan otonom untuk mengusir agresor, terutama mengingat populasi yang kecil. Sebaliknya, perangkat keras teknologi tinggi ditunda sampai bantuan internasional tiba. Persenjataan teknologi tinggi tidak dapat menghilangkan kebutuhan untuk aliansi, terutama terhadap Irak atau iran. Jadi, bahkan seperti Arab Saudi didukung arsenal, ia juga bekerja untuk mengembangkan kemampuan militer dan memiliki hubungan keamanan dengan Amerika Serikat dan kekuatan barat lainnya.
Perang Teluk juga menghasilkan pemikiran baru tentang sifat tempur masa depan. AS mencoba untuk membatasi korban sipil dan bahkan militer Irak selama Perang Teluk telah menghilangkan minat dalam kelas baru senjata mematikan untuk perang masa depan. Peningkatan penyebaran secara global sistem senjata yang dikontrol secara elektronik membuat peralatan militer rentan terhadap tekanan yang tinggi dan getaran elektromagnetik non-nuklir yang merusak dan melumpuhkan sistem elektronik atau sistem yang terhubung ke antena atau baterai. Generator infrasonik (pada frekuensi sangat rendah) dapat diatur untuk melumpuhkan manusia sementara, menyebabkan disorientasi, muntah, atau kejang usus.
Revolusi Informasi dan komunikasi memiliki efek besar pada bagaimana angkatan bersenjata dapat berperang. Sementara kemajuan teknologi telah sangat meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem senjata modern, mereka juga membuka area-area di mana militer sangat rentan digunakan. Hal ini telah menyebabkan konsep perang cyber, dipelopori oleh perusahaan RAND, yang menargetkan sistem pusat informasi pada mesin perang modern[2]. Ini baru pendekatan untuk perang masa depan dan bersiap-siap untuk melakukan operasi militer menurut prinsip-prinsip informasi terkait. Teknik-tekniknya meliputi menghancurkan sistem informasi dan komunikasi musuh, sehingga memenangkan keseimbangan informasi dan pengetahuan, terutama ketika musuh memiliki keunggulan numerik. Ini mencegah musuh untuk mengetahui sendiri, misalnya: siapa itu, di mana itu, apa yang dapat dilakukan dan kapan, mengapa berperang, yang mana ancaman untuk melawan yang pertama. Serangan helikopter apache terhadap kontrol pertahanan udara Irak pada awal perang Teluk dan penipuan yang dilakukan oleh sejumlah relatif kecil marinir untuk memimpin tentara Irak sesat mewujudkan beberapa prinsip dari pendekatan ini. Akibatnya, persenjataan dan taktik yang paling efektif saat ini mungkin sudah ketinggalan zaman akibat revolusi teknologi dan informasi yang terus menerus. Penekanan baru memfokuskan perhatian lebih pada kecerdasan, komputer, dan informasi. Sementara itu, sementara banyak negara melihat perang teluk sebagai pembenaran untuk pembelian pesawat canggih, rudal, dan peralatan militer berteknologi tinggi, masih harus dilihat mana senjata ini akan menjadi penting dalam perang di masa depan.



[1] Patrick J. Garrity, Why the Gulf War still Matters: Foreign Perspectives on the War and the Future of International Security, 1993.
[2] John Arguilla and David Ronfeldt, Cyberwar is Coming, RAND Report P-7791 (Santa Monica, Calif: RAND Coorporation, 1992.

Kamis, 09 Februari 2017

Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART III


Mata kuliah Resolusi Konflik
SEMESTER VI


Military Technology and Conflict
by
Geoffrey Kemp


Transfer Teknologi Militer dan Konflik

Sejak akhir abad ke-19, transfer teknologi militer, baik melalui penjualan, pinjaman, maupun hibah dari negara-negara industri ke negara yang kurang dalam hal industri telah menjadi pengaruh penting dalam hubungan internasional. Kini, revolusi teknologi militer menimbulkan tantangan dan masalah yang baru. Selama beberapa dekade, negara dengan kekuatan industri yang baik melakukan transfer senjata sebagai tambahan dalam kebijakan nasional dan doktrin strategis negaranya. Dalam kasus Amerika Serikat (AS) , penjualan senjata dan program bantuan militer yang dilakukan Amerika Serikat telah memperoleh manfaat tersendiri bagi kepentingan strategis negara ini. Pemberian perlengkapan militer AS kepada sekutunya telah berperan dalam memenangkan tiga perang penting sepanjang masa, yaitu: Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Dingin. Contoh lain, persenjataan AS berperan penting dalam meyakinkan Israel dan berhasil meminimalisir harapan kemenangan militer koalisi arab. Selama tahun 1970an AS memasok persenjataan ke arab, 1980an Amerika Serikat mendapatkan izin dari Arab Saudi untuk mengembangkan salah satu basis logistik terbesar dan modern di dunia, yang mana basis ini penting untuk kemenangan sekutu dalam operasi Desert Storm.
Sebagian kalangan mengkritik tentang transfer senjata AS, mereka berpendapat bahwa kebijakan ini sering menyebabkan bencana, membuat konfrontasi semakin kusut, termasuk pada Perang Vietnam dan skandal kontra Iran. Selain itu kelompok ini juga berpendapat bahwa AS seharusnya tidak memberikan senjata kepada negara negara yang dianggap sebagai ancaman besar karena pada akhirnya negara-negara itu akan menjadi ancaman global. Sebagai contoh, AS memasok rudal permukaan ke udara seperti stringer untuk pejuang Afghanistan dalam rangka mengalahkan pasukan Soviet yang sekarang menjadi ancaman bagi wilayah itu. Selain itu, kritikan juga terletak pada penjualan senjata ke negara-negara bukan demokrasi akan semakin memperkuat atau memberikan peluang pada diktator yang korup, mempromosikan perilaku yang agresif, dan menyedot sumber daya ekonomi yang seharusnya bisa lebih diproduktifkan serta sumber daya manusianya.
Pada awal 1970-an muncul fenomena baru, yaitu munculnya negara penghasil minyak yang sangat kaya dari Timur Tengah yang memiliki kemampuan daya beli tetapi hanya memiliki sedikit keterampilan dalam memproduksi senjata. Penumpukan cepat senjata di Timur Tengah dan kawasan Teluk Persia memperkuat argumen bahwa perlombaan senjata regional adalah berbahaya dan negara penerima akan mengalami kesulitan dalam memahami, memelihara, dan mengoperasikan peralatan canggih mereka tanpa lanjutan dukungan yang intens dari pemasok mereka. Contoh klasik hubungan ini bisa dilihat antara AS dan Iran 1971-1979 dan mencapai puncaknya pada pernyataan dan upaya dari pemerintah Khomeini untuk menjual peralatan militer kembali ke AS.
Transfer senjata merupakan tes penting tentang pertemanan. Senjata nuklir dan sistem yang berkaitan dengan pengirimannya adalah senjata yang paling canggih. Satu-satunya penerima sistem pengiriman strategis nuklir AS adalah Inggris dan Perancis, yang juga telah menjadi sekutu terdekat AS. Inggris, khususnya, telah memiliki hubungan dalam hal nuklir yang sangat dekat dengan AS. Sebagian besar penerima senjata AS belum diizinkan bergabung dalam kesatuan tempur terutama berada di garis depan dari segi peralatan dan kunci subsistem, walaupun ketika mereka mampu membayar penuh sesuai dengan harga pasar. Oleh karena itu dimungkinkan untuk memiliki tingkat hubungan yang dekat antar negara sesuai dengan kualitas senjata dan dukungan militer lainnya yang telah disediakan.
Penjualan senjata AS ke Inggris atau sekutunya yang tertutup itu jarang dikritik, karena dianggap menjadi bagian dari aliansi NATO dan kebutuhan untuk mengintegrasikan doktrin militer dan kemampuan kekuatan untuk melayani tujuan bersama. Transfer senjata membawa pesan penting dalam hubungan antara negara-negara berkekuatan besar dan kekuatan kecil. Persaingan AS - Soviet di dunia ketiga membangun hubungan persaingan di sekeliling negara pemasok dengan negara besar maupun kecil. Pasokan persenjataan Soviet ke Mesir tahun 1955 telah membuka jalan bagi diplomasi Soviet di wilayah tersebut. Tujuh belas tahun kemudian, AS menggunakan bantuan senjata untuk membawa Mesir kembali ke Barat saat presiden Anwar Sadat memutuskan hubungan militer dengan Rusia pada tahun 1972. Tahun 1985-1986, ketika Irak dan Iran mati-matian berjuang untuk bertahan hidup dalam perang brutal mereka, keduanya sama-sama mengandalkan pasokan dari luar untuk menang dalam perang tersebut. Efektivitas dari embargo senjata AS terhadap Iran adalah alasan kunci Ayatullah Khomeini memberi instruksi untuk memperoleh senjata AS, walaupun harus terlibat bisnis dengan AS dan Israel, yang merupakan negara paling dibenci. AS beranggapan bisa menggunakan pasokan senjata untuk membujuk atau menggoda Iran agar dapat menjalin hubungan yang lebih baik lagi dan pada saat yang sama memperoleh pembebasan sandera, Israel berpikir bahwa dengan memasok senjata mereka bisa memperpanjang perang atau sebaliknya, mengambil hati diri dengan para anggota rezim yang mungkin baik dibuang untuk memiliki hubungan dengan Israel setelah Khomeini meninggalkan tempat kejadian.

Akhir Perang Dingin telah memiliki dua efek mendalam pada kegiatan transfer senjata. Pertama, telah menyebabkan penurunan besar dalam bantuan militer dari negara-negara adidaya, yang telah memiliki dampak paling besar pada mantan klien Soviet. Keputusan Suriah untuk bergabung dengan proses perdamaian Timur Tengah itu langsung berkaitan dengan keputusan Gorbachev untuk mengakhiri bantuan militer. Kedua, penarikan negara adidaya dari persaingan regional di Afrika, Amerika latin, dan selatan dan asia tenggara telah memiliki hasil yang sangat berbeda. Di Afrika, kekacauan dan konflik terus berlanjut tetapi kurangnya keterlibatan internasional dalam konflik ini. Asia Tenggara dan Asia Selatan yang terus membangun persediaan militer mereka (India dan Pakistan keduanya memiliki senjata nuklir). Di Amerika latin, telah muncul rezim yang lebih demokratis dan berkurangnya perlombaan senjata.

Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART V (TEKNOLOGI MILITER BARU DAN KESEIMBANGAN KEKUATAN)


Mata kuliah Resolusi Konflik
SEMESTER VI


Military Technology and Conflict
by
Geoffrey Kemp


Teknologi Militer Baru dan Keseimbangan Kekuatan

Fakta bahwa Saddam Hussein mampu menargetkan Tel Aviv dengan rudal SCUD selama Perang Teluk ditunjukkan dalam cara yang paling jelas yang memegang peran penting dalam permainan teknologi rudal pada persepsi geografi dan kekuatan militer di Timur Tengah. Sejalan dengan semakin panjangnya rentang rudal dan pesawat, sebagaimana pula terjadi pada kekuatan (power) yang dapat diproyeksikan melalui semakin besar dan luasnya kawasan, maka akan semakin besar pula kemungkinan untuk meningkatkan dan mengembangkan senjata pemusnah massal, bekas lingkaran strategi ketat yang mendefinisikan keseimbangan militer diantara berbagai daerah musuh di Timur Tengah juga harus diperluas. Strategi Israel mencapai keseluruhan bentuk pelanggaran dan pertahanan yang sekarang harus mencakup fokus kepada Iran, Irak, bahkan Pakistan, sebagaimana mereka mampu mendapatkan misil dan mampu menandingi kemampuan untuk mencapai Israel. Alternatifnya adalah ketika jangkauan Israel meluas, muncul kekhawatiran negara-negara disekitarnya mengenai kerentanan mereka terhadap kapabilitas daya proyeksi Israel. Kondisi ini serupa dengan keadaan yang ditimbulkan dalam strategi lintas-batas (cross-border strategy), yaitu tumbuhnya kekhawatiran di kawasan-kawasan lain terhadap perluasan kapabilitas daya proyeksi suatu kawasan.
Fenomena ini memiliki implikasi penting bagi rezim keamanan regional di Timur Tengah dan di tempat lain. Partisipasi dalam rezim tersebut selalu menjadi isu yang sulit dalam konteks pengawasan senjata Eropa, dan bahkan lebih sulit dalam kasus Timur Tengah. Jadi, bahkan jika Israel mencapai kesepakatan militer dengan Suriah, Yordania, Mesir, Lebanon, dan Palestina, tidak akan membiarkan penjaga Negara selama di bawah Gulf Cooperation Council (GCC) kerjasama Negara-negara kawasan teluk, Iran, dan Irak berada di luar proses. Karena mereka harus menjadi bagian dari proses, dan karena ada hubungan erat antara Pakistan, negara-negara GCC, Iran, dan Irak, tidak dapat dihindari bahwa kemampuan Pakistan akan dimasukkan dalam kalkulus Israel. Logika yang sama berlaku untuk negara-negara seperti Pakistan yang khawatir akan Israel.
Dalam banyak hal, Desert Storm merupakan pertempuran militer yang sangat menyesatkan karena itu begitu sepihak. Satu hal yang jelas, bagaimanapun, adalah bahwa apakah itu amunisi konvensional modern benar-benar menanggung tidak adanya kemiripan pada seluruh hal yang dipergunakan dalam konfrontasi konvensional sebelumnya. Rentang panjang dan akurasi yang tinggi dicapai dengan pesawat dan rudal serta kemampuan pengintaian real time baru akan merevolusi peperangan di masa depan.
Senjata mematikan lebih akurat dan pengintaian yang lebih baik sendiri merupakan sebuah revolusi. Hal ini penting, namun, untuk mendekatkan kapabilitas konvensional dalam hal senjata modern dengan perubahan dramatis struktur target di kawasan-kawasan seperti Teluk Persia. Jika dibandingkan peta infrastruktur di Teluk dari tahun 1970 dengan satu dari tahun 1990 dan proyek kedepan hingga tahun 2010, jelas bahwa telah dan akan terus terjadi perubahan besar dalam penampilan fisik setiap kawasan, menempatkan peningkatan ketergantungan pada system-sistem berteknologi tinggi untuk memastikan kekayaan dan operasi dari hari ke hari negara-negara padang pasir.Kombinasi dari tingginya kerumitan dan kecanggihan infrastruktur minyak, peningkatan ketergantungan terhadap desalinisasi dan sistem distribusi air lainnya, serta kerumitan dalam system jaringan listrik yang terjadi diseluruh poin-poin kawasan untuk menuju profil target yang sangat rentan.
Salah satu pelajaran dari Perang Teluk adalah bahwa sejumlah kecil amunisi, penyampaian akurat terkait system utilitas (seperti system jaringan listrik Irak) akan dapat memiliki dampak menghancurkan dalam waktu yang sangat singkat. Dengan demikian, menjawab pertanyaan apakah apabila terjadi Perang Teluk di masa depan, Amerika Serikat dengan lengkapnya jenis teknologi yang dimilikinya, serta monopolinya khususnya pada tahun 1990 – 1991 mampu melumpuhkan infrastruktur ekonomi-industri seluruh negara dalam hitungan jam, khususnya Amerika Serikat belum tentu mampu menghancurkan atau menyebabkan kerusakan besar terhadap Arab Saudi yang memiliki fasilitas sangat luas.
Dalam dekade mendatang, kemampuan negara-negara di Timur Tengah untuk meningkatkan kekuatan militer mereka dengan beberapa teknologi yang digunakan oleh sekutu pada tahun 1991 akan membaik. Jika Iran dan Irak dapat membeli senjata dan teknologi di pasar terbuka dengan beberapa pembatasan, mereka harus bisa mendapatkan jenis kekuatan yang bisa menimbulkan ancaman besar terhadap ekonomi kesejahteraan tetangga mereka. Secara khusus, mereka atau kekuatan regional lainnya seperti Arab Saudi atau Israel harus mampu menargetkan instalasi ekonomi bernilai tinggi yang memiliki koordinat tetap dan dengan demikian menimbulkan kerusakan besar.
Namun, kapasitas mereka untuk menghancurkan sasaran militer bernilai tinggi akan sebagian dilindungi kemanannya (secara lebih kuat) atau gerakannya akan menjadi lebih jauh dan terbatas. Sangat diragukan, misalnya, bahwa mereka akan dapat menduplikasi semacam operasi militer yang dilakukan oleh sekutu selama Perang Teluk. Sementara komponen penyerang pada kekuatan regional akan meningkatkan secara dramatis, jika mereka mendapatkan akses ke teknologi tinggi, komponen pengintai akan, dalam semua kemungkinan, tetap diluar kemampuannya. Selama Perang Teluk, Amerika Serikat mengandalkan sebuah array yang luar biasa dari sensor canggih dan system peringatan dini termasuk AWACS, JSTARS, dan sistem komunikasi berbasis satelit yang bisa menyampaikan informasi real-time ke medan perang.
Hal ini menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan militer di wilayah itu akan tetap berada di tangan Amerika Serikat, selama masih mempertahankan kehadirannya yang kuat dan terus menerus meningkatkan komponen pengintai angkatan bersenjatanya. Sementara beberapa konflik regional akhirnya mungkin dapat memperoleh beberapa kemampuan pengintaian saat ini yang hanya tersedia untuk Amerika Serikat, tidak mungkin bahwa mereka akan mampu menandingi system terbaru yang sedang dikembangkan untuk angkatan bersenjata Amerika Serikat. Israel, dengan kemampuan peluncuran satelit sendiri, yang sepertinya akan mungkin mendekat dengan tingkat kecanggihan yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Meskipun dalam teori rezim pernah pula di amati, bahwa Irak juga memiliki potensi menyamai kedudukan dalam tingkat kecanggihan Amerika Serikat, dengan dana mereka yang tinggi untuk membeli system ruang (space system) dari China atau Rusia. Hal ini menunjukkan bahwa semua sisi memiliki saham besar dalam kemampuan untuk mengembangkan kekuatan militer ataupun instalasi mobile, secara berlebihan, dan mengeras. 

Minggu, 23 Maret 2014

Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART I

Mata kuliah Resolusi Konflik
SEMESTER VI


Military Technology and Conflict
by
Geoffrey Kemp 




Background
Makalah ini bersumber kepada tulisan karya Geoffrey Kemp yang berjudul “Military Technology and Conflict” yang secara garis besar membahas bagaimana argument Kemp dalam melihat hubungan antara teknologi militer dan konflik, dimana dalam tulisannya tersebut, Kemp membagi tahapan pembahasan menjadi 7 bagian, yakni: 
1) Perang Dingin, Central Arms Race, dan Disintegrasi dengan Uni Soviet; 
2) Transfer Teknologi Militer dan Konflik; 
3) Perang Baru, Sikap, dan Perilaku terhadap Teknologi Militer; 
4) Teknologi Militer Baru dan Keseimbangan Kekuatan Regional; 
5) Proliferasi dan Perang Asimetrikal;
 6) Casualty Aversion; 
7) Kesimpulan. 
Tulisan ini ditulis oleh Kemp atas dasar ketertarikannya terhadap perdebatan yang terus terjadi mengenai hubungan teknologi militer dan konflik, yang pada kenyataannya meskipun telah dipergunakan sejak ratusan tahun lalu dalam segala bentuk perang, perlawanan, maupun penciptaan perdamaian, fungsi dan pengaruh sesungguhnya dari adanya teknologi militer tersebut masih belum dipahami. Beberapa kaum percaya bahwa penggunaan teknologi militer adalah hal yang perlu ditinggalkan, karena saat ini lebih penting untuk memberikan perhatian kepada kepentingan ekonomi, sementara kaum yang lain percaya bahwa tanpa teknologi militer maka hal-hal seperti pencapaian perdamaian tidak akan pernah terwujud. Terlepas dari perdebatan-perdebatan tersebut, secara lebih rinci akan dijelaskan dalam makalah ini.

PEMBAHASAN 

Makalah ini bersumber kepada tulisan karya Geoffrey Kemp yang berjudul “Military Technology and Conflict” yang secara garis besar membahas bagaimana argument Kemp dalam melihat hubungan antara teknologi militer dan konflik. Geoffrey Kemp dalam tulisannya menganalogikan hubungan antara militer dan konflik sebagaimana hubungan antara ayam dan telurnya. Keberadaan teknologi militer didaerah konflik mencerminkan kebutuhan bagi negara-negara untuk membela diri terhadap musuh atau untuk memperbaiki kekurangannya. Namun persaingan senjata antara musuh itu sendiri dapat menjadi sumber konflik atau bahkan pemicu peperangan. Akibatnya, banyak yang percaya bahwa perlombaan senjata akan membawa dampak atau hasil yaitu perang, tidak mudah untuk mendemonstrasikan sebab dan akibatnya secara sederhana. Isu-isu yang sebenarnya adalah dampak dari akuisisi senjata pada stabilitas keseimbangan militer dan hubungan antara stabilitas tersebut dengan faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap konflik. Demikian juga, sulit untuk mengidentifikasikan senjata tertentu yang berkontribusi terhadap peningkatan atau penurunan dalam potensi konflik bersenjata. Senjata, termasuk senjata pemusnal massal, tidak menyebabkan perang atau menjamin perdamaian sendiri, melebihi fungsi atau sebab yang ditimbulkan oleh sebuah senjata api yang terbukti bertanggung jawab atas terjadinya kasus-kasus pembunuhan atau kemampuannya mengurangi kejahatan di kota-kota Amerika Serikat.
Faktor yang sebenarnya penting adalah lingkungan politik-militer, dimana senjata tersebut diperkenalkan. Jika lingkungan secara inheren tidak stabil dan musuh memiliki catatan menyelesaikan sengketa dengan kekerasan, maka munculnya senjata jenis baru akan dapat meningkatkan persepsi ancaman, memberikan katalis untuk perang. Namun, jika lingkungan yang stabil dan iklim yang berlaku adalah salah satu rekonsiliasi dan dialog damai, atau sebaliknya, jika kedua lawan mengantisipasi korban tidak dapat diterima dalam perang, dampak munculnya senjata jenis baru akan memiliki kemungkinan yang rendah terhadap bahaya dan bahkan akan dapat memberikan kontribusi untuk mewujudkan stabilitas. Jadi senjata-senjata yang dianggap dapat mengganggu stabilitas suatu wilayah dapat dianggap stabil di negara lain.
Kemp berpendapat bahwa tidak ada teori umum mengenai hubungan antara senjata dan konflik, bahwa kasus-kasus dapat ditemukan untuk menyesuaikan banyak hipotesis, dan bahwa perubahan dramatis terbaru dalam teknologi justru telah membuat semakin sulitnya untuk memprediksi efek tuduhan tersebut. Sebelum menghadapi beberapa masalah didepan, Kemp memberikan beberapa informasi latar belakang terkait senjata dan konflik.
Sepanjang sejarah kepemilikan dan produksi senjata sebagian besar menjadi monopoli otoritas politik yang dominan di beberapa kawasan di negara tertentu. Sampai saat ini, pihak yang paling sering menunjukkan karakteristik seperti itu ialah negara oligopoli, jika tidak secara langsung menganut kediktatoran, dimana kepemilikan atas usaha bukanlah hak yang dapat dimiliki bagi setiap warga sipil, termasuk dalam hal hak kepemilikan senjata. Aturan tersebut dibentuk antara lain untuk memastikan bahwa warga negara tidak memiliki daya untuk melawan penguasa, termasuk militer terorganisir yang mereka miliki. Sebagai contoh, selama abad ke-19, sebuah inisiatif internasional diluncurkan oleh kekuatan Eropa untuk melarang transfer jenis senapan sunsang ke Sub Sahara Afrika, dengan alasan bahwa pemberian senjata ke tangan pribumi akan menjadi sumber bagi ketidakstabilan, pemberian hak kepemilikan senjata bagi tangan pribumi akan dapat menimbulkan kekuatan untuk mengendalikan. Sebagaimana dirangkum dalam puisi satir Inggris oleh Hilaire Belloc, “Apapun yang terjadi, kita sudah mendapatkan pistol Maxim dan mereka belum”.
Selama teknologi militer merupakan monopoli negara atau kekuasaan kolonial, kerusuhan sipil dan pemberontakan dapat dikontrol. Namun, setelah mereka berkeinginan untuk mengubah status quo terhadap akses tekonologi militer – dengan mengkonversi pembelian, atau pemberontakan – dengan hasil distribusi dari power justru akan mengarah kepada penyebab terjadinya perang sipil dan revolusi. Oleh karena itu, dalam mempertimbangkan perspektif jangka panjang pada konflik bersenjata penting juga untuk kembali mengingat masa-masa sejarah Revolusi Amerika dan pentingnya peran senjata dalam revolusi tersebut, baik yang diproduksi secara lokal maupun dibeli dari luar negeri (terutama pada masa itu persenjataan dibeli dari Perancis). Tanpa akses senjata, revolusioner Amerika tidak dapat berperang melawan Inggris. Pengaruh dan peran senjata memberikan kemampuan bagi kekuatan konfrontasi revolusiner Amerika, senjata membangun kepercayaan diri Amerika bahwa mereka juga telah memiliki persenjataan dan dapat mengungguli Inggris.
Dalam beberapa tahun terakhir, satu set pertanyaan yang berbeda telah muncul dalam kontes senjata dan hubungan internasional, beberapa yang sangat penting ialah: 
(1) hubungan antara perkembangan teknologi nuklir dan potensi konflik di antara negara adidaya,
 (2) hubungan antara transfer teknologi militer dari kekuatan-kekuatan besar, yang secara tradisional   
      menjadi produsen utama senjata, dan kecenderungan penerima untuk terlibat dalam konflik 
     bersenjata, dan 
(3) dampak pada keamanan regional perubahan terbaru dalam sistem internasional dan 
      perkembangan baru dalam teknologi militer.



Resume: Military Technology and Conflict: Geoffrey Kemp PART VI (PROLIFERASI DAN ASIMETRI PEPERANGAN)

Mata kuliah Resolusi Konflik SEMESTER VI Military Technology and Conflict by Geoffrey Kemp Proliferasi dan Asimetri...